Spirit Conductor: Book 2, Chapter 36



Chapter 36 - Kontrak dan Ritual Kebangkitan

Seorang pemuda tengah terbaring lelap di sebuah ruangan. Dia adalah Shira Yashura. Kesadarannya terbangun, namun tubuhnya tengah tertidur. Pelan-pelan dimensi ruangan kamar melebar. Shira terjatuh ke dalam alam bawah sadarnya.

Ia tak asing dengan perasaan ini. Tak lama kemudian, sudah saja ia berada di depan gerbang berkabut ungu.

*nyreeett*

Gerbang berkabut ungu tersebut terbuka...

“Bocah...”

Sebuah suara terdengar lelah. Shira melihat ke dalam pekat gelap sisi lain gerbang itu.

“Bocah... keluarkan aku dari sini...” kata suara tersebut.

“Aku akan memberikanmu banyak uang... akan kuberitahukan semua tempat harta karun yang kusimpan,” kata suara lain.

“Zhi... zhi... zhi...”

“Air... air... aku butuh air... cahaya matahari... obat kuatku... kadaluarsa semua...”

Tak ada semangat yang keluar bersamaan dengan suara-suara itu.

“Mereka juga terjebak puluhan tahun di laut bersamaku,” kata Shira dalam hati. Ia tak tahu apa yang ada di dalam gerbang. Tapi tiga puluh tahun adalah waktu yang cukup panjang baginya, jadi ia hanya bisa membayangkan saja.

“Bocah... keluarkan aku dari sini... kalau tidak...”

Shira menarik napas dalam-dalam. Ia bisa mengerti ancaman yang dikeluarkan salah satu suara tersebut.

“Aku bahkan gak tau bagaimana caranya kalian bisa masuk ke sini. Bagaimana caranya aku bisa tau cara untuk mengeluarkan kalian?” kata Shira pasrah.

“Aku akan... membunuh keluargamu!”

“Zhi... zhi! Mati!!!”

“Mengurung puluhan tahun Zurhatul yang agung di sini... siap-siap menerima azab wahai anak muda!”

*BAAAMMM!!!*

Tiba-tiba saja gerbang di depan Shira terbanting dan tertutup rapat. Suara-suara itu menghilang.

“Sekarang apa lagi?” tanya Shira dalam hati.

Berada di sini, sebenarnya membuatnya tak nyaman. Mengapa Shria bisa mengalami hal seperti ini. Jika saja ia bisa bermimpi seperti layaknya pemuda biasa, ia mungkin akan senang.

Tapi setiap kali ia pingsan, atau terkadang terlalu pulas tertidur, ia selalu bermimpi aneh seperti ini.

“Jika Master gak mau berlama-lama di sini, aku bisa membawa Master keluar,” sebuah suara wanita lembut menggema di benak Shira.

Ia terkejut, melihat ke mana-mana, lalu pandangannya jatuh ke arah gerbang berkabut ungu yang berdiri tegak tak bergeming. Pemilik suara itu, sepertinya bisa membaca pikirannya.

“Apa kamu juga terperangkap seperti mereka?” tanya Shira.

“Bukan. Aku bukan arwah seperti mereka. Aku hanyalah kesadaran yang terlahir dari kabut ungu yang ada di tubuh Master.”

“Lalu apa kamu adalah... Laut?”

***

Kediaman Elzier.

Bony adalah seorang pemuda delapan belas yang ekstrovert. Jadi ia mudah bergaul. Berbincang dan bercanda dengan orang yang ia baru kenal adalah hal mudah baginya. Terutama jika orang itu adalah perempuan cantik.

“Jadi Keluarga Chyltabel bisa membuat jaringan bisnis hotel dan pelelangan seperti itu. Besok-besok jika aku sudah merantau aku ingin sekali mengunjunginya.”

“Kalau Tuan Muda Elzier ingin mengunjungi tempat-tempat kami, bilang saja kalau tuan muda mengenal Erin. Mereka akan menjadikan tuan muda sebagai tamu istimewa.”

“Sudah kubilang panggil aku saja Bony kan?” kata Bony tersenyum.

“Kalau Mas Bony lebih menyukainya,” kata Erin sambil cekikik kecil.

Mereka berbincang lagi tentang banyak hal. Di samping, Ryntia hanya terdiam sedang adik dan temannya sangat akrab sekali di pertemuan pertama. Melihat hal itu, ia hanya bisa tersenyum.

Tiba-tiba saja batu permata di cincin yang ia kenakan bergetar. Itu adalah sinyal panggilan dari Sect Master. Ia melihat ke arah Erin, yang nampak tak mendapat sinyal yang sama. Jadi ia bangkit dan mempersilahkan diri.

Erin hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu berbincang lagi dengan Bony.

Ryntia Elzier melewati koridor bangunan utama. Tujuannya adalah gubuk kecil di belakang tembok kediaman Keluarga Elzier.

Para pelayan dan anggota keluarga lain memberikannya tatapan kagum ketika ia berjalan melewati mereka. Ryntia hanya tersenyum dan mengangguk setiap kali mereka memberi sapa dan salam hormat.

Tak seperti anggota keluarga lain, Ryntia adalah gadis yang sudah diterima di sekolah desa lain sekaligus anak pertama dari Kepala Keluarga Elzier. Generasi muda Keluarga Elzier hanya bisa takjub melihat sosok wanita muda ini.

Saat Ryntia keluar dari kediaman keluarganya, ia langsung di hadang oleh sosok serba hitam.

“Shadow!” pekik Ryntia dalam hati. Ia sudah mendengar banyak hal tentang sosok ini dari Sect Master Yeela. Dan ketika ia berhadapan dengannya, hawa membunuh pekat yang keluar dan menyatu dengan auranya langsung saja membuat Ryntia mengenali identitas sosok tersebut.

“Nona Muda Elzier,” sapa Shadow. “Sect Master sudah pindah ke situs ritual. Aku dikirim untuk membimbing nona muda ke sana.”

“Mm.”

Ryntia mengikuti Shadow dari belakang. Tak lama kemudian, mereka sampai di kaki gunung Desa Badril.

Letak mereka berbeda dengan jalan masuk yang biasanya digunakan warga desa untuk naik ke gunung. Ini adalah tempat terpencil. Tersembunyi dari pandangan mata.

Rune-rune kuno berwarna merah pekat memenuhi tanah. Sekejap aroma pekat amis menyerang hidung Ryntia. Bau darah. Dan rune-rune tersebut, ditulis dengan darah manusia.

Di samping gambaran rune, Ryntia melihat gurunya, Sect Master, duduk berdampingan dengan seorang nenek tua. Mereka nampak tengah menunggu sesuatu.

“Sect Master,” sapa Ryntia. Ia menoleh ke arah nenek tua di sebelah, dan langsung mengenali status nenek tersebut. “Bibi Niu Elang,” sapanya juga.

Bibi Niu Elang mengangguk, tapi cepat ia menutup matanya lagi menunggu.

“Ryntia, duduk di sebelahku,” panggil Sect Master Yeela.

Ryntia menurut. Mereka bertiga menunggu. Shadow sudah pergi dari situ, berjaga di tempat lain.

Sepuluh menit kemudian, muncul tiga sosok hewan berkaki empat. Mereka adalah singa, berjalan tanpa rasa angkuh namun orang yang melihat langsung bisa mengenali aura agung yang muncul dari sosok-sosok tersebut.

“Raja Hutan,” sapa Sect Master Yeela tersenyum.

“Yeela, lama kita tak berjumpa,” kata Raja Hutan sambil membimbing dua singa lainnya. Satu betina dan satu lagi pejantan yang masih muda.

“Pangeran semakin lama semakin terlihat gagah. Saat terakhir aku di sini, dia masih kecil,” puji Sect Master ketika melihat singa muda di sebelah Raja Hutan.

“Haha, anakku adalah hewan buas yang hebat. Di masa depan dia akan menjadi kebanggaan keluarga kami,” kata Raja Hutan sambil tertawa puas.

Raja Hutan dan Sect Master berbincang beberapa menit setelahnya. Raja Hutan menyapa Bibi Niu Elang tapi nenek itu hanya mengangguk dan menutup mata lagi.

Ryntia melihat ke arah singa muda, anak dari Raja Hutan. Sect Master menyebutnya “Pangeran”. Singa muda ini sekilas terlihat ganas, tapi ketika diperhatikan, ia sangatlah malas. Selalu menguap dan menahan kantuk setiap beberapa menit semenjak tiba di sini.

“Aku yakin Pangeran, suatu saat nanti, akan menjadi Raja Hutan yang hebat,” puji Sect Master lagi tiba-tiba saat melihat ke arah singa muda itu.

“Haha, makasih, makasih! Tapi maaf, ya, anakku yang satu ini gak bakal menjadi Raja Hutan, hahaha!”

“Gak akan menjadi Raja Hutan?”

Sect Master bingung ketika mendengar hal itu. Pangeran yang satu ini adalah kandidat terbaik untuk menjadi Raja Hutan. Ia sudah tahu hal tersebut dari dulu. Namun tiba-tiba saja, Raja Hutan mengklaim anaknya tak akan menjadi penerus Raja Hutan dengan nada bangga.

“Tentu saja,” kata Raja Hutan. “Ia tak akan menjadi Raja Hutan seperti ayah dan kakeknya. Melainkan... anakku akan meneruskan tradisi para leluhurnya!”

Mendengar itu, Sect Master menjadi terkejut. Begitu juga dengan Bibi Niu Elang. Hanya Ryntia yang tak mengerti maksud dari Raja Hutan.

“Raja Hutan, maksudmu...” suara Bibi Niu Elang terdengar tak percaya.

“Yap yap. Bukan hanya kalian Purple Garden Sect saja yang diberikan kesempatan oleh Master. Keluargaku, setelah mengabdi pada Master semenjak para leluhur generasi pertama hanyalah hewan buas biasa, kini diberikan kesempatan lagi untuk melihat Singa Kabut Ungu baru!”

Sect Master dan Bibi Niu Elang semakin terkejut saja. Mereka tahu ini bukanlah perkara yang kecil. Singa Kabut Ungu, yang dimaksud oleh Raja Hutan, memiliki status yang luar biasa di mata mereka.

Perlu diketahui, arwah singa yang menjaga Purple Garden Sect selama ribuan tahun, adalah Singa Kabut Ungu generasi sebelumnya, salah satu leluhur dari Raja Hutan!

Ryntia tak banyak tahu tentang arwah singa yang menjaga sektenya. Ia tak pernah masuk ke dalam ruangan leluhur Purple Garden Sect. Jadi ia hanya bisa diam melihat air muka Sect Master Yeela dan Bibi Niu Elang gemetar karena saking terkejutnya.

Kemudian, Raja Hutan tiba-tiba terdiam. Keadaan sekejap menjadi hening.

Karena sesuatu yang ganjil sedang terjadi.

Udara serasa membeku. Ruang dimensi nampak terdistorsi. Begitu ruang dimensi menjadi kalap, sebuah robekan muncul membuat lubang dimensi di depan Ryntia dan juga dua wanita lainnya.

Dari dalam lubang dimensi tersebut, melangkah sebuah sosok...

Sosok tersebut mengenakan baju zirah berkarat. Wajahnya masih muda namun pucat sekali. Langsung saja, aroma darah yang lebih pekat daripada sebelumnya menyeruak.

“Niu Elang memberi hormat kepada Immortal Blood Knight!”

Bibi Niu Elang yang pertama berlutut untuk memberi hormat di depan Immortal Blood Knight.

“Jafhar memberi hormat kepada Immortal Blood Knight!” kemudian Raja Hutan menyusul, tak berani menyebut gelarnya di depan sosok legendaris ini. Ia merundukkan kepalanya serendah mungkin.

“Ardina memberi hormat kepada Immortal Blood Knight!”

“Rere memberi hormat kepada Immortal Blood Knight!”

Istri dan anak Raja Hutan menyusul. Sect Master Yeela dan Ryntia juga berlutut.

“Purple Garden Sect, Yeela memberi hormat kepada Immortal Blood Knight!”

“Purple Garden Sect, Ryntia memberi hormat kepada Immortal Blood Knight!”

Melihat para hewan buas dan para wanita tua dan muda ini, ekspresi Immortal Blood Knight sangatlah dingin.

“Kalian semua yang diutus Raja Gunung untuk membuat kontrak denganku?”

Raja Gunung yang dimaksud, tentu saja bukanlah Raja Gorila yang melempar Shira ke udara dan kemudian dihajar oleh Kakek Lharu.

Tapi Raja Gunung yang dimaksud, adalah Raja Gunung sesungguhnya. Orang yang dikenal sebagai musuh bebuyutan Kaisar Langit... salah satu dari tiga Spirit Conductor terkuat di jagad raya!

“Tuan Immortal Blood Knight benar sekali,” kata Bibi Niu Elang sopan. “Kami semua dikirim oleh Master untuk membicarakan kontrak dengan Tuan Immortal Blood Knight, sekaligus meminta Tuan untuk memimpin ritual pembangkitan untuk salah satu keturunan Elzier.”

“Elzier?” tanya Immortal Blood Knight dingin. “Jangan main kucing-kucingan denganku. Darah keturunan gak pernah ditentukan dari leluhur perempuan.”

“Maafkan atas kelancangan kami. Kami selama generasi demi generasi sudah terbiasa berhati-hati, gak ada maksud untuk menyimpan rahasia dari Tuan Immortal Blood Knight.”

Bibi Niu Elang tak mampu menyembunyikan gemetar tangannya karena ketakutan. Tapi ia memaksakan diri untuk tegar dan lanjut berkata:

“Kontrak apa pun yang Tuan Immortal Blood Knight ajukan, kami siap untuk menganggungnya. Tapi kami meminta ritual kebangkitan... untuk seseorang dari keturunan Tiramikal.”

***

<<PREVIOUS CHAPTERNEXT CHAPTER>>